0

Oleh-Oleh dari Pantai

Yuhuuu…!!! Tulisan ini kembali menyapa kamu yang udah nunggu lanjutan cerita di sekolah terbuka. Semoga cerita ini bisa jadi inspirasi kamu untuk terus berkarya.. ^^

Yyaakk…!! Tema “pantai imajinasi” yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2014 kemarin sukses membawa adik-adik kita menyelam mengarugi imajinasi bersama kapal selam. He-eh..!! Ternyata waktu 2 jam masih kurang bagi mereka untuk membangun “istana pasir” tentang apa yang mereka temukan selama menyelam bersama kapal selamnya.

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat sebuah gambar “kerbau yang sedang membajak”?
Atau “nelayan yang sedang bawa hasil tangkapannya”?
Atau yang lebih modern, “pasar”?

Yang jelas, beda dong ya dengan apa yang saya pikirkan. Begitulah, adik-adik menceritakan dengan pemahaman dan bahasa mereka sendiri tentang apa yang mereka lihat pada gambar-gambar itu. Mereka menuliskan apa yang mereka pikirkan. Tentunya, setiap karya yang dihasilkan berbeda-beda dan memiliki keunikan tersendiri. Ehm, meskipun kalimat-kalimat yang mereka gunakan masih sedikit kacau, setidaknya imajinasi mereka masih mengalir bebas. =D

Lanjut ke “permainan air” selanjutnya. Yihaaa…!! Berselancar bersama ombak cerita yang menyisakan dongeng di tepian pantai!

Yak, benak! Adik-adik belajar tentang antariksa yang dikemas dalam sebuah cerita apik. “Dongeng Antariksa” kami menyebutnya. Tentu saja, dongeng tersebut berhasil menambah pengetahuan mereka tanpa membuat mereka bosan dan menyadari bahwa mereka sedang be-la-jar-as-tro-no-mi. Berkat “Dongeng Antariksa” ini, Adik-adik kita jadi tahu siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan. Kamu tahu, ‘kan, siapa dia? Apa??? Tidak?? Hmm… Sepertinya kamu bisa meminta adik-adik kita untuk bercerita kembali biar kamu juga tahu siapa pahlawan yang berhasil menginjakkan kaki di bulan. :p

Beberapa waktu lalu, dunia dihebohkan dengan sebuah penemuan besar yang menimbukan tanya:
“Kenapa sih orang-orang yang berkecimpung di dunia antariksa mempermasalahkan Pluto?”
“Kenapa Pluto jadi tersingkir dari tatanan Planet?”

Apa kamu juga menanyakan hal yang sama? Udah tahu jawabannya? Nah, coba deh tanyain mereka. Kamu akan takjub mendengar jawaban Adik-adik kita tentang permasalahan itu. =D

Puas bermain air, saatnya kita mengeringkan badan sambil membangun “istana pasir” kedua. Apa? Menulis lagi?? Yoi, Broo..! Membaca dan menulis itu adalah satu kesatuan. Oleh sebab itu, Adik-adik lagi-lagi diminta untuk menyelami pantai imajinasi, menyusun pasir kata-pasir kata yang bertebaran di tepian pantai, membentuk satu karangan utuh tentang dongeng antariksa yang sudah mereka dengar. Tentunya, dongeng itu ditulis dengan bahasa mereka sendiri. Nah, esensinya adalah untuk melihat sejauh mana Adik-adik kita dapat memahami pesan yang disampaikan dalam “Dongeng Antariksa” tersebut. Juga untuk melihat, apakah dalam selang waktu beberapa jam tersebut, kosakata mereka bertambah atau tidak. Tentunya, karangan yang pertama dan yang kedua harus ada perubahan, dong. Karangan kedua harus lebih baik dari yang pertama. Betul? =D

Setelah selesai menulis, ada dua orang volunteer yang menceritakan kembali tulisan mereka di depan kelas. Hebat ya..!! Kamu berani tidak??

Tentu saja, kamu juga boleh membaca karya tangan-tangan mungil itu. Semua ada di tim Hepi-Hepi Berbagi dan bisa diakses kapan pun kamu mau. Tinggal menghubungi tim Hepi-Hepi Berbagi 🙂 🙂

Akhirnya, tiba di penghujung hari nan cerah. Saatnya “barbeque-an” sambil………… sing a song..!!! Yuhuu…!!! Seperti yang sudah direncanakan, Adik-adik “diajarkan” lagu I Have a Dream dari boyband asal Irlandia, Westlife. Dan yak!! Lagu dengan makna yang sangat dalam ini berhasil memecah aula sekolah. Semoga saja Adik-adik kita dapat memahami makna lagu ini dan terinspirasi =D

Lalu, apa kabar kelas 3??
Uji coba berjalan dengan lancar. Hasilnya juga cukup memuaskan. Hampir 60% Adik-adik lulus uji coba UN Bahasa Indonesia. Mari kita doakan, semoga kelulusan uji coba ini berlanjut sampai UN beneran. =D

Selanjutnya??

Ayukk…ayukk…!! Mari kita melangkah dan berbuat bersama untuk membayar hutang yang telah diberikan Ibu Pertiwi kepada kita. ^o^

Dokumentasi…
Tulis… Tulis… Tulis…

10008382_10203282621975436_1861429544_n 10002703_10203282620855408_1349944446_n 10000286_10203282620535400_1696528557_n 10000286_10203282619895384_272318441_n 1964467_10203282620495399_1865342491_n 1961391_10203282623415472_1979533754_n 1960185_10203282621615427_1401249398_n 1957499_10203282621175416_1890090664_n 1947584_10203282620775406_75151280_n 10002887_10203282622295444_162884121_n

Kelas 3 harus lebih rajin belajaaar… =D

10002806_10203282624895509_529080230_n 1980688_10203282624935510_283229178_n 1616273_10203282621375421_1606949606_n

Salam Hepi
-Tim Hepi-Hepi Berbagi-
Depok, 5 Maret 2014

Advertisements
Image
0

Serunya Berexpresi…!! Eps. 3

Yyaakkk…!! Cerita episode ketiga dari mengexpresikan diri akhirnya keluar juga. Penasaran gak sih gimana cerita lanjutannya setelah 2 minggu adik-adik kita mendapatkan pengetahuan tentang drama, puisi dan menggambar?

Yuk, mari kita baca ceritanya..!!

Ehm, cerita ini agak sedikit berbeda dengan apa yang direncakan. Kok? He-eh..!! Karena alam gak bisa kita atur. Rencananya kan kita mau berexpresi di alam bebas, tapi alam berkata lain. Kata alam untuk minggu ini di sekolah aja, karena alam juga ingin mengekspresikan diri. Ingin menyapa bumi melalui sang hujan..!! =D

1957588_10203224553243754_1215399824_n

Tapi, itu gak merusak “mud” adik-adik, boleh diliat ekspresi mereka dalam proses gambar-menggambar. Seru sendiri.  Asik sendiri. Berpetualang dalam imajinasi. =D

1961423_10203224557123851_123426044_n 1947822_10203224556203828_1850026507_n 1947645_10203224554083775_216604972_n 1957503_10203224557683865_369089015_n 1964706_10203224564804043_1925949791_n 1927234_10203224564924046_81151219_n 986762_10203224566484085_28494853_n

Hei..hei..!! Liat aja, si Kakaknya juga seru sendiri..!!

1964465_10203224554203778_750416863_n

 

Gambar-gambar mereka juga gak kalah oke. Meskipun ada yang “nyontek”, tapi tetep aja mereka menambahkan imajinasi mereka sendiri-sendiri. ^-^

1957514_10203224555203803_1629234426_n 1957458_10203224554043774_1082879298_n

Di pojok sana, selain ada yang menggambar ada sekelompok adik-adik yang sedang berlatih membaca puisi. Belajar mengexpresikan puisi. Lagi, lagi dan lagi..!! Masih malu-malu sih, tapi no problemo. Ini baru awal kok, masih ada waktu untuk latihan agar mereka bisa membaca puisi dengan ekpresi yang pas, dan keren..!! Hehe..

1937603_10203224561003948_1496606690_o 1940089_10203224561083950_1028529647_n

Dan mereka juga tampil di depan teman-temannya pada hari itu. Dan itu berhasil menyihir teman-temannya untuk mendengarkan. =D

1964313_10203224561203953_271438450_n

 

Di kelas yang paling pojok ada segerombol adik-adik yang sedang latihan drama. Ada 3 kelompok drama. Dan yang salut itu, adalah mereka bisa berbagi ruangan yang sempit itu untuk latihan secara bergantian. Saling memberikan masukan untuk perbaikan. Malu-malu sih masih ada, tapi udah mulai pede kok. *berikan applause untuk kelas drama..!!*

1964603_10203224562763992_1979372174_n

1974575_10203224562963997_1503537212_n

 

Nah, yang lain kemana kak?
Mereka sibuk berkutik dengan angka-angka..!!

1922695_10203224562803993_1786867043_n

1964326_10203224566204078_387904525_n

Yup, kelas 3 sedang uji coba UN Matematika. Kamu tau lah ya, gimana soal Matematika. Jadi begitulah, mereka sedang berkonsentrasi bermain dengan angka-angka. Dan hasil uji coba UN yang diadakan langsung diumumkan. Memang, masih 100% gagal. 😥

Ehm, tapi gagal saat ini mah, boleh. Namanya juga latihan. Tapi nanti, pas UN, yang namanya GAGAL udah gak ada. Untuk itu latihan setiap hari diperlukan, dan mereka dengan semangat terus berlatih.

 

Yuk ah, bantuin adik-adik kelas 3 dengan membantu mereka belajar.
Buat kamu yang punya waktu kosong dari Senin-Sabtu mulai pukul 13.00-15.30 bisa langsung ikutan gabung =D

Mereka bisa dan mampu kok..
Mereka hanya butuh latihan dan latihan..
Dan  mereka membutuhkan kakak-kakak untuk berdiskusi.

Kamu mau membantu mereka?

Kemon, singsingkan lengan baju..!!
Buka lagi memori SMP kita, dan kemon, tularkan ilmu-ilmu yang udah kita dapatkan waktu zamannya masih imut-imut dulu, zamannya biru-dongker..!! ^o^

 

salam Hepi
-ipehthepooh-
Bogor, 250214

2

Serunya Berexpresi..!!! Eps.2

Hei.. Hoi..!!
Salam semangat semua di mana pun kamu berada. Semoga apa yang sedang kita kerjakan dapat bermanfaat untuk diri dan sekitar kita.. ^^

Jadi, apa cerita wiken kamu minggu kemarin? Menarik? Seru?
Kami mendoakan agar wiken kamu berjalan seru dan menyenangkan…!!
Yoa, begitu juga wiken di sekolah terbuka. Gak kalah seru. Menarik! Dan yang pasti HEPI..!! =D

Ehm, seperti di tulisan sebelumnya, Sabtu lalu, 15 Februari 2014 kita masih berkecimpung dengan dunia drama, musik dan menggambar.
Loh, Kak, puisinya kok gak ada?
He-eh.. karena gurunya sedang bersemedi ‘di tempat tidur’, maka puisinya digabung sama kelas drama: senam wajah.
(Mari kita doakan Kak Iham segera sembuh. Jadi bisa berbagi cerita tentang puisi.  ^^)

Yup!

Cerita drama Sabtu kemarin adalah senam wajah. Biar bisa lebih gampang berexpresinya. Trus lanjut ke latihan drama, di sini adik-adik dituntut untuk lebih menjiwai peran yang mereka dapatkan. Yang menarik adalah drama mereka jadi lebih berkembang dari minggu lalu. Meskipun masih malu-malu, tapi oke-laaah..!! =D *terharu*

???????????????????????????????

Adik-adik kelas Drama sedang melakukan pemanasan

Adik-adik mencoba mementaskan dramanya

Adik-adik sedang latihan drama

kirim10 kirim7

Evaluasi Kelas Drama oleh

Evaluasi Kelas Drama oleh Kak Anom

Lanjut ke cerita di kelas Menggambar. Kelas Menggambar sangat heboh..!! Heboh dengan pensil warna-warni. Yoi..!! bebas mengexpresikan warna capung, kupu-kupu dan buah-buahan. Dan itu menyenangkan..!!

kirim2

seorang adik dari Kelas Dua mulai menggambar kubu-kupu =D

kirim4

Kelihatan seperti sedang lomba menggambar, ya? :p

kirim8

mahakarya adik-adik Kelas Menggambar, SMPN 1 Ciampea Terbuka

kirim9

Kalo ngintip di kelas musik, ternyata adik-adik di sana masih belajar vokal.
Hei..hei..!! paduan suara mereka terdengar mulai berirama. Antara do re mi dan selanjutnya. Kamu tau?? Mereka juga belajar suara 1, 2 dan 3. Itu kan butuh konsentrasi biar gak salah nada! Dan berikan appaluse untuk mereka..!! Karena mereka juga udah menunjukkan kemajuan.

kirim3

kirim5

Adik-adik serius membaca teks nada Do-Re-Mi….

Ssstt..!! kamu mau liat mereka tampil??
Tunggu tanggal mainnya..!!

Cuma sampai disitu??

Tentu tidakkkk…!!

Kita melanjutkan diskusi tentang misi “rahasia” yang akan segera di garap.

Mau tau? Mau tau??
Hehe…
Namanya juga “rahasia”..!!
Kalau kamu mau tau, ayolah kita merapat..!!!
Ini akan jadi cerita yang cetar membahana…!!!!!
Mari bergabung dipertemuan selanjutnya..! =D

 

Salam Hepi,
-ipehthepooh-
Bogor. 18 Februari 2014

0

Karena Bu Risma

Berbagi Cerita, Berbagi Pengetahuan…

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,581 more words

2

Serunya Berexpresi..!!!

Salam expresi…!!! =D
apakah kamu sudah mengexpresikan dirimu, kawan?
hidup itu terlalu datar kalau gak ada expresinya.. ^^v

yyaakk..!!

minggu kemarin adik-adik di sekolah bebas mengexpresikan kesenangannya.

Yang suka nyanyi tergabung dalam grup musik yang dibimbing kak evi untuk mengenal nada-nada biar nyanyinya gak kayak kaleng pecah lagi *ups*.

Serunya Kak Evi dan adik-adik membaca nada-nada

Serunya Kak Evi dan adik-adik membaca nada-nada

Yang suka ngegambar tergabung dalam grup gambar yang dibimbing kak Iyut dan kak Mei untuk mengenal teknik menggambar. He-eh..!! yang namanya ngegambar juga ada tekniknya, jadi gak harus pake pensil warna. Punya satu pensil juga bisa menggambar yang menghasilkan gambar yang juga oke punya.

kak Mei bersama adik-adik kelas 1 di kelas menggambar

serunya menggambar.. =D

serunya menggambar.. =D

ini dia karya adik-adik di kelas menggambar

ini dia karya adik-adik di kelas menggambar

Yang suka puisi juga langsung dibimbing secara eksklusif sama kak Iham, gimana caranya berexpresi, harus lantang dan berani menatap penonton, dan gimana caranya bisa buat puisi yang mengalir dengan kata-kata yang tersusun apik.

Kak Iham dan Pitri sedang serumembahas contoh-contoh puisi

Kak Iham dan Pitri sedang serumembahas contoh-contoh puisi

Terakhir,  ada kelas drama yang dibimbing sama kak Anom dan Kak Imam untuk mengenal sejarah terjadinya drama dan membuat naskah .

penampilan di kelas dram

penampilan di kelas drama

Kak Anom sedang menjelaskan asal usul drama

Kak Anom sedang menjelaskan asal usul drama

Kak Imam dan adik-adik sedang mendiskusikan penampilan drama yang telah ditampilkan

Kak Imam dan adik-adik sedang mendiskusikan penampilan drama yang telah ditampilkan

Ternyata mereka semua bisa, Cuma masih malu-malu. Hehe…

Yongkru komandan, “ala bisa kanrena terbiasa”. Untuk menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri memang membutuhkan banyak latihan..!!! begitu juga dengan mereka. Mereka masih membutuhkan banyak latihan dan bimbingan dari kakak-kakaknya.

Tentu saja..!! tentu saja cerita ini belum berakhir..!!
=D
yuk mari, di tunggu kelanjutannya..
mau gabung??

Kenapa gak???? ^^v
Salam,
-ipehthepooh-
Pondok Petir, 14 Februari 2014

0

KAMPUSKU PENDIDIKAN KATANYA

oleh: Kesmayadi, Mataram

“Selamat pagi, Mas, ada yang perlu saya bantu?” Tanya si Satpam tiba-tiba langsung menyahut dengan lembut. Senyum ramah dari sudut-sudut bibirnya menyungging. Ia menyambut seraya membukakan pintu. Lengkap dengan lencana putih yang ia kenakan, membuat kesan tak sangar seperti lazimnya petugas keamanan.

“Oh ya, Pak, saya mau nabung. Loketnya yang sebelah mana ya?” Tanyaku yang tumben masuk di kantor itu.

“Sebelah sana, Mas. Tapi ambil nomor antrian dulu, baru tunggu di sana. Nanti Mas akan dipanggil.” Si Satpam mengisyaratkan tangannya dengan bersahaja. Mempersilakanku duduk persis di tempat arah telunjuknya.

“Oke, terima kasih, Pak.” Balasku.

Kantor Bank letaknya tidaklah terlalu jauh-jaraknya dari rumah. Bangunannya sangat megah membuat cukup kontras setiap bangunan kantor lain di dekatnya. Di tempat itulah, semenjak pagi-pagi sekali, sebelum kakakku berangkat ke kantor, ia meminta tolong untuk menabungkan sejumlah uangnya di sana.

Suasana kantor Bank pagi itu masih terasa lengang. Aku mengambil duduk di bangku antrian paling depan, sebelah pojok kanan. Bangku semuanya tak penuh. Hanya terlihat beberapa orang saja yang tengah duduk menunggu. Mungkin dengan maksud yang sama sepertiku. Di ruangan tunggu itu, AC membuat udara jadi sangat lembab. Kulit terasa dingin mengiris setiap guratannya. Menjadi tambah keriputlah kulit muka dan jemari yang sedari rumah sudah agak basah. Beruntung tak lama berselang, loket pun sudah ada yang kosong. Petugas menyebut beberapa kali namaku. Tanda panggilan. Aku pun menghadap sesuai nomor urut antrian.

Selepas dari sana, aku langsung kembali ke rumah. Bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Hendak menuntaskan beberapa urusan administrasi terkait dengan skripsi. Tentu sebagai prasarat untuk mendapatkan surat ijin penelitian.

Hujan yang mengguyur sejak pagi-pagi buta, terus mengguyur bagai tak rela mereda. Berhenti lalu berlanjut lagi begitu awetnya. Sehingga rinai-rinainya masih terasa di pelipis saat aku putuskan memilih nekat menerobos berkendara ke kampus. Meski saat hujannya agak-agak rintik tapi mampu kuyupkan bajuku persebelah depannya.

Namun guyuran rintik hujan itu tak sampai buyarkan keterkesananku. Saat-saat dimana berada di kantor Bank tadi. Betapa orang-orang yang berada di sana senyumnya ramah-ramah. Ranum bagai buah mangga milik tetangga. Buat tergoda orang sekampung. Di pintu, sudah ada Satpamnya berdiri dengan ramahnya. Ia siap menjawab setiap hal yang ditanyakan, kepada setiap orang yang datang. Teller-nya dari kejauhan saja, telah siaga dengan tampang senyum ramahnya. Pada saat orang-orang hendak keluar dari ruangan, tiada yang berbeda setitik pelayanannya. Sekedar berpapasan di tangga kantor saja, para pegawainya yang kebetulan sedang di sana pun akan tetap sama. Padahal aku sudah berada di tempat parkiran dan akan bergegas untuk pulang.

Seperti pepatah orang Inggris: manalah mungkin aku membenci orang yang tersenyum padaku. Seperti senyum setiap pegawai Bank itu, aku dibuatnya masih merasa berkesan dalam hati.

Setiba di kampus, hujan rintik-rintik pun belum kunjung mereda sungguh. Malah membawaku kembali dengan keterkesananku itu. Pada saat mengurus kelengkapan administrasi penelitianku. Terasa kontras sekali bak gedung kantor Bank yang tadi di antara bangunan sekitarnya. Apalagi setelah mendapatkan pelayanan dari sang petugas akademik di kampus. Seorang petugas yang aku tanyakan, tidak seperti para pegawai Bank itu. Acuh tak acuh. Entah berapa kali pertanyaanku yang sama harus aku ulang-ulang, baru mendapat tanggap. Itupun masih setengah hati, setengah mati.

Sedemikiankah pelayanan orang-orang di kampusku ini? Pekikku dalam hati. Meradang bagai seekor katak yang kepanasan di atas aspal tengah hari. Ini kan notabene-nya sebagai kampus pendidikan!

Ah, mungkin saja pelayanan yang ada di Bank tadi, hanya untuk menciptakan kesan nyaman bagi setiap pelanggan yang berkunjung. Memanglah mesti akan dituntut begitu. Bila tak demikian sama artinya berharap tak dapat pelanggan. Tak pula membuatku berkesan sebegini.

Tapi bukankah di lingkungan pendidikan yang justru harus lebih nyaman tercipta? Bukankah setiap orang, yang berada dalam lingkungan kampus pendidikan, atau seorang tenaga kependidikan yang melaksanakan managemen pendidikan itu sendiri, harus mampu menciptakan lingkungan yang mendidik? Sebagai cermin dari komitmen membangun pendidikan. Sebagai upaya dalam mempersiapkan para calon pendidik yang berkualitas. Bukankah itu adalah sebuah keniscayaan pula? Sederetan pertanyaan berkecamuk dalam pikiran. Entahlah, fenomena apalagi yang tengah aku saksikan ini? Aku merasa seperti terasing dalam rumahku sendiri.

Keterkesananku berbalik seratus delapan puluh derajat. Pupus seperti air fatamorgana bila dipandang dari dekat. Aku sebenarnya sudah terbiasa dengan kehidupan kampus yang seperti ini. Namun gara-gara pelayanan di kantor Bank itulah yang membuat cara pandangku menjadi agak berbeda dari sebelumnya. Begitu nyata di depan mata namun tiada terlihat selama ini. Benarlah bila tahi mata jarang kita mampu lihat meskipun sangat dekat dengan mata, kecuali dengan bercermin. Bank itu bagai sebuah cermin besar bagiku ketika berada di kampus.

Dekat emperan teras kampus, bangku yang aku duduki, agak reot seakan malu dengan gerutuku. Apakah ia tahu tentang galaunya pikiranku. Bilalah ia mampu berbicara, akankah ia enggan bercerita tentang banyak hal kesaksiannya selama disana? Mungkinkah ia merasa jenuh ditempatnya yang itu-itu saja dari dulu? Mungkinkah itu pula yang membuat ia hanya membungkam dan membisu dengan bahasa sunyinya yang entah apa? Tidak ada yang tahu. Tiada pula yang peduli. Meski setiap saat selalu ada orang yang duduk diatasnya.

Hanya sedikit yang aku tahu tentang bangku ini. Orang-orang seperti diriku, pernah duduk bersandar disini. Di bangku ini. Mungkin beserta kejenuhannya. Tiada tipis bedanya dengan yang aku alami. Menemukan pelayanan di kampusnya sendiri seperti aku mendapatkan pelayanan.

****

Di tengah kemelut negeri yang didera krisis karakter, serasa sukar merajut asa dan menitipkan kepercayaan. Kata Menteri Pendidikan beberapa waktu lalu, “karakter harus dibangun melalui keteladanan kita.” Bila dalam suatu lembaga, mulai dari tingkatan structural yang paling atas. Bila di dalam keluarga, mulai dari orang tua. Bila dalam pergaulan dalam masyarakat, mulailah dari diri sendiri. Orang lain maupun lingkungan masyarakat akan mencontohnya bila kita sendiri sudah memulai. Keteladanan tiada pilihan lain kecuali harus dimulai dari diri sendiri. Namun kemana larinya keluhuran moral seperti itu di kampus yang katanya kampus pendidikan? Apakah zaman ini memang harus niscaya mengkapitalisasi pendidikan. Lebih tertarik mengurus bila hal-hal itu barbau uang. Mengapa uang yang bergambar monyet itu ia lebih rela dirubahnya dengan wajah Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Apakah itu yang pantas?

***

Sayup-sayup gemericik hujan, mulai mereda. Bunyi hak pantopel para mahasiswa yang berhamburan menerobos sisa hujan, menyentakkan kesadaranku. Aku raih ponsel untuk memastikan waktu, rupanya hampir sejaman lamanya aku bermenung di tempat duduk. Aku palingkan wajah keluar mengawasi halaman depan kampus. Hujan pun masih terlihat sayup-sayup gemulai. Namun aku merasa harus menerobosnya seperti yang dilakukan teman-teman mahasiswa yang lainnya. Aku beranjak pulang. Masih dengan teka-teki yang tiada berjawab. Aku tak mau berlama-lama duduk dibangku ini, apalagi berada selalu di kampus bila keadaannya demikian kalutnya.

Aku harus melaju lagi di jalanan dan melupakan yang sudah terjadi. Seperti kata pepatah Cina, lebih baik nyalakan sebuah lilin, daripada mengutuk kegelapan. Melanjutkan tiap deret proses dengan baik. Itulah yang niscaya. Hingga pada nantinya, resmi takku punyai tempat duduk lagi di kampus ini. Almamater tercinta yang “katanya” kampus pendidikan.

Aku harus segera Wisuda!

(Jalan Pendidikan 68-Mataram,10 januari 2012)

0

Einstein Kecil

Hola!!

Apa kabar, Kawan? Semoga cuaca hujan yang romantis ini tidak mengganggu kesehatan Kawan-kawan, plus bukan jadi alasan untuk tidak beranjak dari si guling tercinta. Life must go on..!! Harus terus berkarya..
Hehe…

Oke..!!
Ini dia cerita adik-adik yang sedang belajar menjadi Einstein..=D

hujan

Sabtu, 18 Januari 2014. Hujan masih mengguyur kota hujan dengan irama. Rintik-rintik kecil terus menambah kecepatan, menjadi rintik-rintik besar, lalu semakin deras, dan tiba-tiba berhenti. Lanjut lagi rintik-rintik kecil, lagi, lagi dan lagi. Begitu seterusnya, setia menemani Einstein-einstein kecil ini belajar. Meskipun jumlah adik-adik nggak sebanyak biasanya, tapi mereka yang hadir masih dengan antusias melihat dan mendengar cerita-cerita terbaru dari sang kakak. Cuaca boleh memanggil untuk segera beranjak ke kasur, tapi kegiatan ini nggak kalah menarik dari sang kasur.

Cerita ini diawali dari Kak Evi yang menjelaskan kenapa bisa terjadi hujan? Dan… Hei..! Ternyata mereka udah tau kenapa bisa ada hujan. *prookk… prokk… tepuk tangan untuk mereka*

Selanjutnya, kita berangkat ke dunia tumbuh-tumbuhan. Mengidentifikasi tumbuhan yang ada di sekolah termasuk jenis monokotil dan dikotil, apa yang mendasari pembagian kelompok tersebut, dan secara langsung melihat perbedaan dari kedua jenis tanaman itu.

IMG-20140121-WA0011

Terus, kita juga belajar sulap, tapi bukan sihir.

IMG-20140121-WA0002

Yuhuuu..!! Kita menyulap tanaman! Merubah warna bunga krisan putih menjadi merah, juga menambah dan mengurangi panjang kentang menggunakan air.

Sssttt, Einstein tau nggak, ya? Hehe…

Dan adik-adik kita sekarang udah mulai tau, bahwa dengan teori kapilaritas tanaman bisa menyerap air berwarna terus masuk ke jaringan tumbuhan, dan voilaaa..!! Warna putih bunga krisan segera berubah jadi warna merah. Juga peristiwa osmosis, yakni terjadi perubah panjang kentang sesuai dengan lingkungannya.

Hebat kan? *tapi ini membutuhkan kesabaran, karena ini bukanlah sihir, jadi ada prosesnya. Syukurlah, adik-adik kita masih bisa bersabar melihat perubahannya.* =D

Puas dengan dunia tumbuhan, terus pulang? Tentu saja tidak. Ada kegiatan yang lebih seru. MOBIL-MOBILAN..!!
Yoiyoi…!! Kita main mobil-mobilan, tapi buat sendiri dengan barang-barang bekas. Pake teori gaya dan tekanan udara. He? Emang bisa? Apa sih yang gak bisa kalau kita belajar? Hehe…

kardusdus

Kita sulap deh si kardus, tutup botol, sedotan, trus balon. dan taraaannnggg..!! Jadilah mobil-mobilan a la Adik-adik Ciampea. Jangan salah, Kawan! Mobil-mobilan buatan mereka bisa adu kecepatan loh..!! Nggak percaya? Sok mangga liat di sekolah, ada barang buktinya. ^^

Ssssttt…, Einstein tau gak ya? ^^v

IMG-20140121-WA0007

IMG-20140121-WA0010

Di sini itu pembuktian ketiga, bahwa adik-adik sekolah Ciampea itu cerdas-cerdas dengan keunikannya. Kenapa? Karena Kak Evi sama Kak Ipeh juga buat mobil, tapi kenapa mobil kakak-kakaknya nggak bisa jalan?

IMG-20140121-WA0003IMG-20140121-WA0006

Terus adik-adik itu lebih kreatif, bisa buat mobil sedan pula. Canggih gak sih?
Wwakakakakakkk….

 IMG-20140121-WA0005 IMG-20140121-WA0009

Dan waktunya pun berakhir. Saatnya pulang. Tapi bukan Hepi-Hepi Berbagi namanya kalau nggak bisa ngebuat suasana heboh bin kacau. *eh*.

Jadi…. Kita lanjut ke kisah terakhir…

Kamu boleh pulang, tapi berapa hasil dari..

He-eh! Syarat bisa pulang dari kakaknya adalah harus bisa jawab soal KABATAKU (kali, bagi, tambah, kurang). Kalau nggak bisa, ya nggak boleh pulang. *kakak-kakaknya memang cerdas. :p*

Permainan ini seru, dan semakin memanas, sampai membuat kakaknya ngos-ngosan. wakakakakakkkk…

Tapi… karena udah waktunya, maka mereka akhirnya dipulangkan. Dan kita akan bermain lagi Sabtu depan. =D

Seru, ‘kan? Iya dong..!!

Yuk, makanya gabung minggu depan. So pasti nggak akan kalah seru… ^o^


“Karena kita harus dan terus berkarya untuk menciptakan suatu perubahan…”

^^v

salam Hepi,
-ipehthepooh-
foto oleh: Evi Song dan Ipeh
editor: adetawalapi
Depok, 21 Januari 2014